Loading...

Rabu, 23 November 2011

Skripsi Bab I


BAB I
PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang Masalah
Dalam proses pembelajaran di kelas yang mempunyai peran penting terhadap kemajuan siswa adalah guru yang mana guru adalah yang paling dekat dengan siswa bahkan dapat dikatakan yang paling tahu terhadap permasalahan siswa di dalam kelas, Jadi sudah wajar jika siswa mengharapkan layanan pembelajaran dari para guru yang menjadi penanggung jawab utama terlaksananya pembelajaran di kelas. Tetapi realitanya dalam kehidupan sekarang ini masih banyak guru jenjang pendidikan dasar dan menengah kurang peka atas harapan itu. Dengan begitu, wajar jika untuk meningkatkan mutu sebagian besar siswa menjadi masalah yang serius tidak hanya bagi siswa, tetapi juga bagi guru, orang tua bahkan masyarakat. Dalam kasus ini, seorang guru sebenarnya merupakan pihak yang paling dekat dan tahu tentang masalah yang dihadapi siswa di kelas, sehingga terbuka peluang siswa untuk berbenah diri. Akan tetapi, hal ini kurang disadari oleh sebagian guru, sehingga mereka pun sering kali hanya dijadikan objek belaka.

Dalam rangka pengembangan sumber daya manusia, pendidikan mempunyai peranan sangat penting dan mendasar dalam upaya menghasilkan manusia Indonesia yang berkualitas baik dalam bidang pengetahuan, Iptek dan Imtaq. “Pendidikan pada dasarnya merupakan interaksi antara pendidik dengan peserta didik untuk mencapai tujuan yang berlangsung dalam lingkungan tertentu”[1]. Upaya meningkatkan prestasi belajar siswa, guru perlu mengetahui tipologi belajar siswa agar menjadikan suasana belajar siswa menyenangkan dan lebih efektif. Dengan mengetahui tipologi belajar siswa maka pencapaian tujuan pembelajaran akan lebih aktif dalam kegiatan pembelajaran akan lebih nyata hasilnya.

Lembaga pendidikan sesuai dengan fungsinya mempunyai peranan yang penting untuk mencetak atau melahirkan SDM yang berkualitas sehingga mampu mengembangkan peranannya dalam pembangunan nasional, lebih jauh lembaga pendidikan dalam melaksanakan fungsi dan tugasnya diharapkan mampu mengoptimalkan potensi yang dimiliki peserta didik sehingga pada akhirnya dapat menghasilkan prestasi yang lebih baik. Dalam prestasi tentu yang menjadi inti kemajuan presatsi belajar siswa.

“Belajar adalah perubahan perilaku yang relatif permanen sebagai hasil pengalaman (bukan hasil perkembangan, pengaruh obat, atau kecelakaan) dan bisa melaksanakannya pada pengetahuan lain serta mampu mengkomunikasikannya kepada orang lain”[2].
Ada juga yang berpendapat bahwa belajar itu adalah “sebuah kegiatan untuk mencapai kepandaian atau ilmu”[3]. “Belajar juga seringkali didefinisikan sebagai perubahan yang secara relatif berlangsung lama pada masa berikutnya yang diperoleh kemudian dari pengalaman-pengalaman”[4].

Dalam buku Landasan Psikologi Proses Pendidikan yang mengatakan bahwa “belajar adalah diperolehnya kebiasaan-kebiasaan, pengetahuan dan sikap baru”[5]

Melihat dari pendapat diatas penulis dapat meyimpulkan bahwa belajar itu adalah usaha peserta didik dalam meningkatkan dan menumbuhkan sikap dan tingkah laku yang sesuai dari pribadinya masing-masing.

Dalam belajar perlu adanya motivasi yang kuat, dengan motivasi yang kuat, maka siswa mampu menyerap mata pelajaran khususnya pelajaran pendidikan agama Islam, “perilaku individu tidak berdiri sendiri, akan tetapi selalu ada hal yang mendorongnya dan tertuju pada suatu tujuan yang ingin dicapainya”[6].
Dari penjelasan di atas penulis dapat menyimpulkan bahwa motivasi tersebut tidak cukup dari satu pihak melainkan dari berbagai pihak melainkan dari berbagai pihak serta berusaha mempelajari pelajaran itu lebih lanjut sehingga prestasi belajar meningkat. Prestasi belajar masih tetap menjadi indikator untuk menilai tingkat keberhasilan siswa dalam proses belajar. Prestasi belajar yang baik dapat mencerminkan tipologi belajar yang baik karena dengan mengetahui dan memahami tipologi belajar yang terbaik bagi dirinya akan membantu siswa dalam belajar sehingga prestasi yang dihasilkan akan maksimal. Dalam proses belajar mengajar di sekolah, siswa seringkali dihadapkan pada suatu permasalahan yang timbul pada saat proses belajar berlangsung, baik itu permasalahan yang bersifat intern maupun ekstern, secara tidak langsung permasalahan tersebut akan mempengaruhi perkembangan daripada proses belajar itu sendiri, apakah permasalahan tersebut akan dapat mendidik atau permasalahan itu akan menghambat belajar siswa? Dalam kaitannya ini prestasi belajar siswa aktivitas belajar yang dilakukan oleh siswa atau tipologi belajar siswa. Kemampuan seseorang untuk memahami dan menyerap pelajaran sudah pasti berbeda tingkatnya. Ada yang cepat, sedang dan ada pula yang sangat lambat. Mereka seringkali harus menempuh cara berbeda untuk bisa memahami sebuah informasi atau pelajaran yang sama. Sebagai alternatif pemecahan masalah tersebut diatas adalah dengan menggunakan tipologi belajar siswa yang dapat meningkatkan prestasi siswa.

Karena dengan tipologi belajar merupakan cara yang konsisten yang dilakukan oleh seorang murid dalam menangkap stimulus atau informasi, cara mengingat, berpikir, dan memecahkan masalah. tipologi belajar adalah cara yang konsisten yang dilakukan oleh seorang murid dalam menangkap stimulus atau informasi, cara mengingat, berpikir, dan memecahkan soal. tipologi belajar merupakan suatu kunci untuk mengembangkan kinerja dan pekerjaan, disekolah dan dalam situasi antar pribadi. tipologi belajar memegang peranan yang penting dalam keberhasilan belajar seseorang atau pelajar sebelum menentukan cara belajar yang tepat dan benar karena tipologi belajar setiap individu akan mempengaruhi cara belajar yang akan di tempuhnya. Ketika seseorang individu menyadari bagaimana bisa menyerap informasi dan mengolahnya, “seseorang akan dapat belajar dan berkomunikasi lebih mudah dengan tipologi belajarnya sendiri”[7].
Setiap orang mempunyai tipologi belajar tersendiri yang mereka sukai, hal ini merupakan suatu cara mengelolah pengalaman dan penerapan yang paling aktif agar dapat mengartikannya dan memberikan basis untuk kegiatan masa depan. Aneka pengalaman yang kita dapatkan selama sekolah baik dari Taman Kanak-kanak maupun jenjang studi sesudahnya memberikan kemampuan kepada kita. Berdasarkan permasalahan diatas, sebagai gambaran problematika dalam memperoleh efektifitas dan efisien pembelajaran pendidikan agama Islam. Dengan ini maka penulis melakukan penelitian di SMPI IMAMUL HASAN tentang masalah tipologi belajar siswa dengan mengambil judul KORELASI TIPOLOGI BELAJAR DENGAN PRESTASI BELAJAR PENDIDIKAN AGAMA ISLAM SISWA SMPI IMAMUL HASAN TEGALWATU KECAMATAN TIRIS KABUPATEN PROBOLINGGO.

B.       Alasan Memilih Judul
Setiap tindakan mempunyai pertimbangan-pertimbangan tertentu agar apa yang dilakukan berjalan mantap dan menghasilkan sesuatu yang optimal
Ada beberapa alasan yang menjadi dasar untuk mengkaji judul dalam skripsi ini, antara lain :
1.   Permasalahan yang terkandung dalam judul tersebut cukup menarik untuk di kaji sebab berdasarkan realita yang ada bahwa mayoritas ada keanehan dalam belajar siswa. Namun masalah prestasi lumayan memuaskan.
2.   Dorongan oleh tanggung jawab penulis sebagai calon sarjana pendidikan yang mengembangkan dan mengamalkan ilmu pendidikan secara positif dalam rangka ikut serta untuk memecahkan masalah yang di hadapi siswa atau guru dalam proses pembelajaran di kelas.
3.   Tipologi belajar merupakan faktor yang sangat menentukan dalam keberhasilan proses belajar mengajar, karena setiap anak berbeda cara berfikirnya.

C.      Rumusan Masalah
Dengan melihat fenomena diatas, maka peneliti mencoba mengangkat dua permasalahan, yaitu:
1.   Bagaimana tipologi belajar siswa terhadap pelajaran Pendidikan Agama Islam di SMPI Imamul Hasan Tegalwatu Kecamatan Tiris Kabupaten Probolinggo?
2.   Bagaimana korelasi antara tipologi belajar dengan prestasi belajar siswa pendidikan Agama Islam di SMPI Imamul Hasan Tegalwatu Kecamatan Tiris Kabupategn Probolinggo?
D.      Tujuan Penelitian
Berdasarkan pada dua permasalahan di atas, maka penelitian ini bertujuan:

1.        Untuk mengetahui tipologi belajar siswa terhadap pelajaran Pendidikan Agama Islam di SMPI Imamul Hasan Tegalwatu Kecamatan Tiris Kabupaten Probolinggo.
2.        Untuk mengetahui Korelasi Tipologi Belajar dengan Prestasi Belajar Pendidikan Agama Islam Siswa SMPI Imamul Hasan Tegalwatu Kecamatan Tiris Kabupaten Probolinggo.

E.       Kegunaan Penelitian
Dari hasil penelitian ini diharapkan bisa memberikan kontribusi bagi pihak-pihak yang bersangkutan, diantaranya adalah:
1.      Bagi Lembaga
Pengaruh tipologi belajar akan menjadi salah satu langkah strategis bagi pengembangan mata pelajaran Pendidikan Agama Islam dalam kaitannya menentukan kurikulum pengajaran pendidikan Agama Islam yang lebih baik untuk masa depan.
2.      Bagi Guru
Dapat memberikan informasi mengenai tipologi belajar siswa yang berbeda-beda sehingga memudahkan dalam proses belajar mengajar sesuai dengan kemampuan.
3.      Bagi Peneliti
a.         Pengaruh tipologi belajar akan menjadi acuan yang signifikan bagi pengembangan strategi pembelajaran mata pelajaran pendidikan Agama Islam ke depannya.
b.        Sebagai sarana aplikasi teori dan pembelajaran yang didapatkan dalam perkuliahan dan digunakan sebagai syarat untuk memenuhi tugas Akhir Kuliah.

F.       Hipotesis Penelitian
Hipotesis adalah suatu jawaban yang bersifat sementara terhadap permasalahan penelitian, sampai terbukti melalui data yang terkumpul[8]. Terkait dengan penelitian yang saya lakukan maka hipotesis yang saya ajukan sebagai berikut :

H0    : Tidak ada pengruh terhadap tipologi belajar terhadap prestasi belajar siswa di SMPI Imamul Hasan Tegalwatu Kecamatan Tiris Kabupaten Probolinggo.
H1    : Ada pengaruh terhadap tipologi belajar terhadap prestasi belajar siswa di SMPI Imamul Hasan Tegalwatu Kecamatan Tiris Kabupaten Probolinggo.


G.      Ruang Lingkup dan Keterbatasan Penelitian

Ruang lingkup dari penelitian ini adalah tipologi belajar. Yang mana dalam hal ini yang akan di teliti hanya pada korelasi antara tipologi belajar dengan prestasi belajar. Penelitian ini dilakukan di sekolah menengah pertama swasta di kecamatan tiris khususnya siswa-siswi di kelas VII SMPI Imamul Hasan.

Penelitian ini di batasi hanya pada satu sekolah menengah pertama di kecamatan tiris khususnya di SMPI Imamul Hasan Tegalwatu Kecamatan Tiris Kabupaten Probolinggo.

H.      Definisi Operasional

Dalam rangka menghindari kemungkinan terjadinya pemahaman atau penafsiran yang tidak sesuai dengan makna yang peneliti/penulis maksudkan perlunya untuk memberikan definisi operasional dalam penelitian ini. Variabel penelitian yang perlu di definisikan adalah:


1.   Pengaruh
Dalam kamus besar Bahasa Indonesia pengaruh adalah “daya yang ada atau timbul dari sesuatu (orang/benda) yang ikut membentuk watak, kepercayaan, perbuatan seseorang”[9].
2.   Tipologi Belajar
            Dalam Kamus Ilmiah Populer tipologi adalah “Ilmu Pembagian Menurut Tipe (Mode, contoh, bentuk huruf)”[10], maksud penulis dari kata tipe di atas adalah tipe belajar atau tipologi  belajar, namun kata tipologi disini lebih di arahkan kepada gaya belajar, dengan maksud untuk mempermudah sipembaca hususnya peneliti, jadi gaya belajar atau tipologi belajar siswa adalah “suatu proses gerak laku, penghayatan, serta kecenderungan seorang pelajar mempelajari atau memperoleh sesuatu ilmu dengan cara tersendiri[11]”.
3.   Prestasi Belajar Pendidikan Agama Islam
Istilah prestasi digunakan untuk menunjukkan mengenai pencapaian suatu tingkat keberhasilan dari usaha yang dilakukan. Sedangkan belajar mengandung pengertian “terjadinya perubahan dari persepsi dan perilaku, termasuk juga perbaikan perilaku, misalnya pemuasan kebutuhan masyarakat dan pribadi secara lengkap”[12]. ada juga yang berpendapat bahwa belajar itu adalah “suatu bentuk pertumbuhan atau perubahan dalam diri seseorang yang dinyatakan dalam cara-cara bertingkah laku yang baru berkat pengalaman dan latihan”[13].
“Pendidikan agama islam adalah upaya sadar dan terencana dalam menyiapkan peserta didik untuk mengenal, memahami, menghayati, mengimani, bertakwa berakhlaq mulia, mengajarkan agama Islam dari sumber utamanya kitab suci al-Qur’an dan al-Hadits, melalui kegiatan bimbingan, pengajaran latihan, serta penggunaan pengalaman”[14].


[1] Nana Syaodih Sukmadinata, Landasan Psikologi Proses Pendidikan, (Bandung: PT REMAJA ROSDAKARYA, 2003). 2
[2] Made Pidarta, Landasan Kependidikan, (Jakarta: PT RINEKA CIPTA, 2000). 197
[3] H, Baharuddin, dan Esa Nur Wahyuni, Teori Belajar & Pembelajaran, (Jogjakarta: AR-RUZZ MEDIA, 2010), 13
[4] Abdul Rahman Shaleh, Psikologi: Suatu Pengantar Dalam Perspektif Islam, (Jakarta: Kencana, 2008), 205
[5] Nana Syaodih Sukmadinata, Landasan Psikologi Proses Pendidikan, (Bandung: PT REMAJA ROSDAKARYA, 2003), 155-156
[6] Ibid, 60
[7] Bobbi Deporter dan Hernacki, Quantum Learning Membiasakan Belajar Nyaman dan Menyenangkan, terjemahan Alwiyah Abdul Rahman ( Bandung: Kaifa,2003), 110
[8] Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktik, (Jakarta: Rineka Cipta 2006), 71.
[9] Sulistiyowati, Kamus Lengkap Bahasa Indonesia,(Jakarta:BUANA RAYA:2005). 298
[10] Plus A Partanto M. Dahlan Yacub Al Bariy, Kamus Ilmiah Populer, (Surabaya: Arkola, 1994), 751
[11] Joko Susilo,  Gaya Belajar Menjadikan Makin Pintar,  (Yogjakarta: PINUS, 2006), 15
[12] Oemar Hamalik, Psikologi Belajar & Mengajar, (Bandung: Sinar Baru Algensindo, 2009) 45  
[13] Abdul Rahman Shaleh, op.cit. , 207
[14] Ramayulis, Metodologi Pendidikan Agama Islam, (Jakarta Pusat, Kalam Mulia, 2008), 21

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar