Loading...

Rabu, 23 November 2011

Bab II


BAB II
KAJIAN PUSTAKA

A.           Tipologi Belajar Siswa
1.   Pengertian Tipologi Belajar Siswa
Seperti yang telah di singgung sebelumnya bahwa tipologi belajar yang di maksud disini adalah gaya belajar, yang mana gaya belajar itu adalah  adalah “suatu proses gerak laku, penghayatan, serta kecenderungan seorang pelajar mempelajari atau memperoleh sesuatu ilmu dengan cara tersendiri”[1].

Untuk meningkatkan kualitas belajar mengajar di kelas, seseorang diharapkan dapat mengetahui dan memahami bagaimana ia menyerap, menerima, dan mengolah informasi dari luar sesuai dengan kemampuannya sendiri.

Tipologi belajar merupakan salah satu kunci untuk mengembangkan kinerja dalam pekerjaan, di sekolah dan dalam situasi-situasi antar pribadi. Ketika siswa menyadari bagaimana orang lain menyerap dan mengolah informasi, siswa dapat menjadikan belajar dan berkomunikasi lebih mudah dengan tipologi belajar mereka sendiri. Jika siswa akrab dengan tipologi belajar mereka sendiri, maka siswa dapat mengambil langkah-langkah penting untuk membantu diri siswa belajar lebih cepat dan lebih mudah. Setiap individu mempunyai cara sendiri yang dianggap cukup optimal dalam mempelajari informasi baru termasuk siswa.

Tipologi belajar adalah cara yang konsisten yang dilakukan oleh seorang murid dalam menangkap stimulus atau informasi, cara mengingat, berpikir, dan memecahkan soal.

Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa tipologi belajar adalah masing-masing cara belajar mulai dari memusatkan, memproses, dan penyajian informasi baru.

2.   Manfaat Tipologi Belajar
Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa tipologi belajar merupakan salah satu kunci untuk mengembangkan kinerja dalam pekerjaaan, di sekolah, dalam situasi-situasi antarpribadi. Begitu juga halnya dengan seorang siswa, ia akan lebih mudah belajar dan menemukan cara belajarnya jika siswa tersebut mengetahui tipologi belajar yang benar dalam cara belajarnya karena setiap individu mempunyai tipologi belajar yang berbeda-beda. Misalnya seorang siswa dapat belajar dengan mengandalkan pendengaran, dengan melihat atau dengan gerakan.

3.   Faktor-faktor yang Mempengaruhi tipologi Belajar Siswa
Menurut bobbi deporter dan heracki terjemahan Alwiyah Abdul Rahman banyak variabel yang mempengaruhi cara belajar individu yang mencangkup faktor-faktor fisik, emosional, sosiologis, dan lingkungan.[2]
“Para ahli menggunakan istilah yang berbeda dan menemukan berbagai cara untuk mengatasi tipologi belajar siswa setiap individu telah disepakati secara umum adanya dua kategori utama tentang bagaimana kita belajar. Pertama, bagaimana kita menyerap informasi dengan mudah (modalitas) dan kedua, cara kita mengatur dan mengolah informasi tersebut (dominasi otak)”[3].

Sedangkan ada juga yang mengemukakan bahwa kondisi yang mempengaruhi kemampaun belajar adalah sebagai berikut:
a.    Lingkungan fisik jelas mempengaruhi proses belajar. Suara, cahaya, suhu, tempat duduk, dan sikap tubuh semuanya penting.
b.   Orang yang memiliki berbagai kebutuhan emosional. Dan emosi berperan penting dalam proses belajar. Dalam banyak hal, emosi adalah kunci bagi sistem memori otak. Muatan emosi dari prestasi dapat berpengaruh besar dala memudahkan pelajar untuk menyerap informasi dan ide.
c.    Orang juga memiliki kebutuhan sosial. Sebagian orang suka belajar sendiri. Yang lain suka bekerjasama bersama seorang rekan. Yang lain lagi, bekerja dalam kelompok. Sebagian anak-anak menginginkan kehadiran orang dewasa saja.[4]


B.            Prestasi Belajar Siswa Pendidikan Agama Islam
1.        Pengertian Prestasi Belajar
Prestasi belajar adalah hasil yang telah dicapai siswa melalui proses belajar yaitu hasil belajar yang dicapai siswa ketika mengikuti dan mengerjakan tugas serta kegiatan pembelajaran di sekolah.

Prestasi belajar sebagai perubahan tingakahlaku, meliputi tiga ranahya itu ranah “kognitif, afektif, dan psikomotorik. Ranah kognitif adalah prilaku yang menyangkut masalah pengetahuan, informasi, dan masalah kecakapan intelektual”[5]. “Ranah afektif adalah perilaku yang berupa sikap, nilai-nilai dan prestasi. Sedangkan ranah psikomitorik adalah perilaku yang terutama berkaitan dengan ketrampilan atau kelincahan dan kondisinya”.[6]

Bloom mengatakan bahwa ranah kognitif terbagi menjadi enam kategori yaitu pengetahuan, pemahaman, penerapan, analisis, sintesis, dan evaluasi. Pengetahuan menyangkut kesiapan individu yang penekanannya pada mengingat atau mengenal gagasan metode atau materi yang pernah dipelajari. Pemahaman meliputi kemampuan siswa untuk menyerap makna dariapa yang telah dipelajari. Penerapan merupakan kemampuan individu untuk menggunakan apa yang telah dipelajari kedalam situasi konkrit yang baru. Analisis menyangkut pemahaman dan penerapan yang penekanannya pada kemampuan untuk mengorganisasikan atau menguraikan suatu materi menjadi bagian-bagian yang lebih kecil. Sintesis menyangkut kemampuan untuk mengembangkan bagian-bagian kecil menjadi bentuk yang bermakna. “Sedangkan evaluasi menyangkut kemampuan untuk menilai sesuatu pengertian yang dipelajari dan kemampuan untuk memulai suatu masalah berdasarkan kriteria yang didefinisikan dengan jelas”.[7]

2.        Pengertian Belajar Siswa
Pada hakikatnya belajar merupakan suatu proses yang dilalui oleh individu untuk memperoleh perubahan tingkah laku kearah yang lebih baik sebagai hasil dari pengalaman individu dalam interaksi dengan lingkungan. Perubahan tingkah laku sebagai hasil belajar dapat terjadi melalui usaha mendengar, membaca mengikuti petunjuk, mengamati, memikirkan, menghayati, meniru, melatih atau mencoba sendiri dengan pengajaran atau latihan. Adapun perubahan tingkah laku sebagai hasil belajar tersebut relatif tetap dan bukan hanya perubahan yang bersifat sementara. Tingkah laku mengalami perubahan menyangkut semua aspek kepribadian, baik perubahan pengetahuan, kemampuan, keterampilan, kebiasaan, sikap dan aspek perilaku lainnya.

Agar manusia senantiasa tumbuh dan berkembang seseorang mesti belajar. Sebagian orang beranggapan bahwa yang dimaksud belajar adalah mencari ilmu atau menuntut ilmu. Aliran modern dewasa ini memberikan pengertian belajar adalah “perubahan yang terjadi dalam diri seseorang setelah melakukan aktivitas tertentu. Walaupun pada kenyataannya tidak semua perubahan termasuk kategori belajar. Misalnya, perubahan fisik, mabuk, gila dan sebagainya”.[8]

Dalam belajar yang terpenting adalah proses bukan hasil yang diperoleh artinya belajar harus diperoleh dengan usaha sendiri, adapun orang lain itu hanya sebagai perantara atau penunjang dalam kegiatan belajar agar belajar itu dapat berhasil dengan baik.

Dibawah ini dikemukakan beberapa pengertian tentang belajar menurut beberapa ahli:

Dalam pendidikan Islam anak didik mempunyai sifat dan kode etik yang merupakan kewajiban yang harus dilaksanakan dalam proses belajar mengajar baik secara langsung maupun tidak langsung. Yaitu :
a.         Belajar dengan niat ibadah dalam rangka taqorrub kepada Allah SWT. Sehingga dalam kehidupan sehari-hari anak didik dituntut untuk selalu mensucikan jiwanya dari akhlak yang rendah dan watak yang tercela.
b.        Mengurangi kecenderungan pada perihal duniawi dibandingkan masalah ukhrawi.
c.         Bersikap tawadlu (rendahhati) dengan cara meninggalkan kepentingan pribadi untuk kepentingan pendidiknya.
d.        Menjaga pikiran dan pertentangan yang timbul dari berbagai aliran.
e.         Mempelajari ilmu-ilmu yang terpuji, baik untuk kehidupan duniawi lebih-lebih kehidupan ukhrawi.
f.          Belajar dengan bertahapatau berjenjang dengan memulai pelajaran yang mudah (konkret) menuju pelajaran yang sukar (abstrak) atau dari ilmu yang fardlu ain sampai pada ilmu fardlu kifayah
g.         Belajar sampai tuntas untuk kemudian beralih pada ilmu yang lainnya, sehingga anak didik memiliki spesifikasi ilmu pengetahuan secara mendalam.
h.        Mengenal nilai-nilai pragmatis bagi suatu ilmu pengetahuan, yaitu ilmu yang dapat bermanfaat yang dapat membahagiakan, menyejah teraka, serta memberi keselamatan hidup dunia akhirat.[9]

Menurut Sudjana, belajar adalah suatu proses yang ditandai dengan adanya perubahan pada diri seseorang. Perubahan hasil belajar ditunjukkan dalam berbagai bentuk berubah pengetahuannya, pemahamannya, sikap tingkah lakunya, kertampilan, kecakapan dan kemampuannya, daya reaksinya, daya penerimaannya, dan aspek-aspek lain yang ada pada individu.[10]

Syaiful Bahri menjelaskan bahwa belajar pada hakekatnya adalah perubahan yang terjadi dalam diri seseorang setelah berakhirnya melakukan aktifitas belajar, walaupun pada kenyataannya tidak semua perubahan termasuk kategori belajar.[11]

Sedangkan menurut Winkel belajar merupakan suatu aktivitas mental psikis yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan yang menghasilkan perubahan-perubahan dalam pengetahuan ketrampilan dan nilai sikap. Perubahan itu bersifat konstan dan berbekas.[12]

Menurut psikologi daya atau faculty pstchology, individu memiliki sejumlah daya-daya: daya mengenal, mengingat, menanggap, mengkhayal, berpikir, merasakan, berbuat dsb. Daya-daya itu dapat dikembangkan melalui latihan dalam bentuk ulangan-ulangan. Kalau anak dilatih banyak mengulang-ulang menghafal sesuatu, maka ia akan ingat akan hal itu.[13]

Dari beberapa pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa belajar adalah merupakan suatu usaha yang berupa kegiatan sehingga dapat menimbulkan perubahan tingkah laku. Perubahan belajar terutama adalah proses sadar, setidak-tidaknya sipelajar menjadi sadar, bahwa ia telah belajar dan perubahan yang terjadi dalam perubahan belajar merupakan aspek-aspek kepribadian yang terus-menerus berfungsi artinya pengalaman yang baru itu tidak bersifat statis tetapi dinamis serta perubahan-perubahan akibat perbuatan belajar adalah positif dan aktif dan tidak negatif serta lemah.
Belajar sepertihalnya perkembangan berlangsung seumur hidup, dimulai sejak dalam ayunan (buaian) sampai dengan menjelang liang lahat. Apa yang dipelajari dan bagaimana cara belajarnya pada setiap fase berkembangan berbeda-beda.

3.        Pengertian Prestasi Belajar Siswa
Prestasi belajar merupakan suatu gambaran dari penguasaan kemampuan para peserta didik. Setiap usaha yang dilakukan dalam kegiatan pembelajaran baik oleh guru sebagai pengajar, maupun oleh peserta didik sebagai pelajar bertujuan untuk mencapai prestasi yang setinggi-tingginya. “pretasi belajar adalah proses belajar yang dialami siswa dan menghasilkan perubahan dalam bidang pengetahuan, pemahaman, daya analisis, sintesis, dan evaluasi”[14].
Ada juga yang berpendapat bahwa :
“Prestasi belajar adalah hasil yang diperoleh seseorang setelah mengalami proses belajar. Hasil belajar sendiri bermacam-macam yang dibedakan menurut tipe-tipenya. Hasil belajar meliputi kognitif, afektif, dan psikomotorik. Ketiganya sebagai satu kesatuan”[15].

4.        Faktor-faktor yang Mempengaruhi Prestasi Belajar Siswa
Belajar di sekolah tidak senantiasa dapat berhasil dengan baik, tetapi seringkali ada hal-hal yang bisa mengakibatkan atau keterlambatan kemajuan belajar yang biasanya disebutkan oleh beberapa faktor. Menurut Muhibbin Syah, faktor-faktor yang mempengaruhi belajar siswa diklasifikasikan menjadi tiga macam, yaitu[16] :

a.        Faktor Intern
Faktor intern adalah faktor yang timbul dari dalam diri individu itu sendiri.
1)       Aspek Fisiologis
Kondisi umum jasmani dan tonus (tegangan otot) yang menandai tingkat kebugaran organ-organ tubuh dan sendi-sendinya, dapat mempengaruhi semangat dam ntensitas siswa dalam mengikuti pelajaran. Kondisi organ tubuh yang lemah dapat menurunkan kualitas ranah kognitif sehingga materi yang dipelajarinya kurang atau tidak berbekas.
Kondisi organ tubuh siswa seperti tingkat kesehatan, indera pendengar, dan indera penglihat, juga sangat mempengaruhi kemampuan siswa dalam menyerap informasi dan pengetahuan, khususnya yang di sajikan di kelas.
2)       Aspek Psikologis
a.    Kecerdasan adalah kemampuan belajar disertai kecakapan untuk menyesuaikan diri dengan keadaan yang dihadapinya. Kemampuan ini sangat ditentukan oleh tinggi rendahnya intelegensi yang normal selalu menunjukkan kecakapan sesuai dengan tingkat perkembangan sebaya. Adakalanya perkembangan ini ditandai oleh kemajuan-kemajuan yang berbeda antara satu anak dengan anak yang lainnya, sehingga seseorang anak pada usia tertentu sudah memiliki tingkat kecerdasan yang lebih tinggi dibandingkan dengan kawan sebayanya. Oleh karena itu jelas bahwa faktor intelegensi merupakan suatu hal yang tidak diabaikan dalam kegiatan belajar mengajar.

b.   “Bakat adalah kemampuan tertentu yang telah dimiliki seseorang sebagai kecakapan pembawaan”[17].

Dari pendapat di atas jelaslah bahwa tumbuhnya keahlian tertentu pada seseorang sangat ditentukan oleh bakat yang dimilikinya sehubungan dengan bakat ini dapat mempunyai tinggi rendahnya prestasi belajar bidang-bidang studi tertentu. Dalam proses belajar terutama belajar keterampilan, bakat memegang peranan penting dalam mencapai suatu hasil akan prestasi yang baik. Apalagi seorang guru atau orang tua memaksa anaknya untuk melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan bakatnya maka akan merusak keinginan anak tersebut.

c.    “Minat adalah kecenderungan yang menetap dalam subjek untuk merasa tertarik pada bidang/hal tertentu dan merasa senang berkecimpung dalam bidang itu”[18]. Keempat, Motivasi dalam belajar adalah faktor yang penting karena hal tersebut merupakan keadaan yang mendorong keadaan siswa untuk melakukan belajar.

d.   “Motivasi siswa adalah Perubahan energi di dalam pribadi seseorang yang ditandai dengan timbulnya afektif perasaan dan reaksi untuk mencapai tujuan”[19]. Motivasi dapat dibedakan menjadi dua macam,yaitu motivasi intrinsik dan motivasi ekstrinsik. Motivasi intrinsik adalah “motif-motif yang menjadi aktif atau berfungsinya tidak perlu di rangsang dari luar”[20]. Sedangkan motivasi ekstrinsik adalah “motif-motif yang aktif dan berfungsi karena adanya perangsang dari luar[21]”. perbedaan kemampuan merupakan salah satu faktor yang menyebabkan berbeda-bedanya prestasi. Faktor-faktor lain yang mempengaruhi adalah “dorongan atau motif untuk berpretasi, takut gagal, takut sukses”[22].

b.        Faktor Ekstern
Faktor ekstern adalah faktor-faktor yang dapat mempengaruhi prestasi belajar yang sifatnya diluar diri siswa, yaitu beberapa pengalaman-pengalaman, keadaan keluarga, lingkungan sekitarnya dan sebagainya.

1)       Lingkungan sosial
Lingkungan sosial sekolah seperti guru, para staff, administrasi dan teman-teman sekelas dapat mempengaruhi semangat belajar seorang siswa. Lingkungan social seperti lingkungan masyarakat, tetangga dan teman-teman sepermainan juga sangat mempengaruhi kegiatan belajar. Sifat-sifat orang tua, juga dapat memberi dampak baik atau buruk terhadap kegiatan yang dicapai oleh siswa

2)     Lingkungan non sosial
Faktor-faktor yang termasuk lingkungan non sosial adalah gedung sekolah, rumah tempat tinggal keluarga, pelengkapan pembelajaran, keadaan dan waktu belajar yang digunakan siswa. Faktor-faktor tersebut sangat menentukan tingkat keberhasilan siswa.

3)     Faktor pendekatan belajar
Pendekatan belajar dapat dipahami sebagai cara atau strategi yang digunakan siswa dalam menunjang dan efesiensi pembelajaran materi tertentu. Strategi dalam hal ini berarti seperangkat operasional yang direkayasa sedemikian rupa untuk memecahkan masalah atau mencapai tujuan tertentu.

Disamping faktor-faktor eksternal dan internal sebagaimana yang dijelaskan diatas faktor pendekatan belajar juga berpengaruh terhadap taraf keberhasilan proses pembelajaran siswa tersebut.

5.        Pendidikan Agama Islam
a.        Pengertian Pendidikan Agama Islam
Untuk memahami pengertian Pendidikan agama Islam secara mendalam, maka penulis akan mengemukan pendapat tentang pendidikan agama Islam sebagai berikut:
1)       “Pendidikan agama Islam adalah usaha sadar berupa bimbingan dan asuhan terhadap anak didik/murid agar kelak setelah selesai pendidikannya dapat memahami dan mengamalkan ajaran-ajaran agama Islam serta menjadikannya wayoflife (jalan kehidupan) sehari-hari, baik dalam kehidupan pribadi maupun sosial masyarakat”[23].

2)       “Pendidikan agama Islam adalah suatu usaha untuk membina dan mengasuh peserta didik agar senantiasa dapat memahami ajaran Islam secara menyeluruh. Lalu menghayati tujuan, yang pada akhirnya dapat mengamalkan serta menjadikan Islam sebagai pandangan hidup”[24].

3)       “Pendidikan agama Islam adalah upaya sadar dan terencana dalam menyiapkan peserta didik untuk mengenal, memahami, menghayati, mengimani, bertakwa mulia, mengamalkan ajaran agama islam dari sumber utamanya kitab suci al-Qur’an dan al-Hadits, melalui kegiatan bimbingan, pengajaran latihan, serta penggunaan pengalaman”[25]

Dari beberapa pengertian Pendidikan Agama Islam diatas dapat disimpulkan bahwa pendidikan agama Islam merupakan usaha sadar yang dilakukan pendidik dalam rangka mempersiapkan peserta didik untuk meyakini, memahami, dan mengamalkan ajaran Islam melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, atau pelatihan yang telah ditentukan untuk mencapai yang telah ditetapkan.
               
b.        Tujuan Pendidikan Agama Islam
Berdasarkan pada pengertian pendidikan Islamnya itu sebuah proses yang dilakukan untuk menciptakan manusia-manusia seutuhnya, beriman, dan bertakwa kepada Tuhan serta mampu mewujudkan eksistensinya sebagai khalifah Allah dimuka bumi, yang berdasarkan kepada ajaran Al-Qur an dan sunnah, maka tujuan dalam konteks ini berarti terciptanya insan kamil setelah proses pendidikan berakhir.[26]

1)  Tujuan umum
Tujuan umum ialah tujuan yang akan dicapai dengan semua kegiatan pendidikan, baik dengan pengajaran atau dengan cara lain. Tujuan meliputi seluruh aspek kemanusiaan yang meliputi sikap, tingkah laku, penampilan, kebiasaan dan pandangan. Tujuan umum ini berbeda dengan pola taswa harus tergambar pada pribadi seseorang yang sudah didik, walaupun ukuran dan mutu yang rendah, sesuai dengan tingkat-tingkat tersebut.
Tujuan umum pendidikan Agma Islam harus sejajar dengan pandangan Islam pada manusia, yaitu makhluk Allah yang mulai dengan akal dan perasaanya, ilmunya, kebudidayaanya, pantas menjadi khalifah di bumi. Tentu saja bobot dan ukuranya disesuaikan dengan situasi dan kondisinya, yaitu mahkluk yang mulia ukuran anak-anak, ukuran orang dewasa, ukuran kelompok kecil, ukuran pimpinan masyarakat, Negara dan seterusnya. Tujuan umum ini meliputi pengertian, pemahaman, penghayatan dan keterampilan tersebut ini harus menempati institusi tingkatan pendidikan Islam. Tentu saja ada tujuan umum untuk tingkat sekolah permulaan, sekolah lanjutan, perguruan tinggi, dan ada juga tujuan umum untuk sekolah umum, sekolah kejuruan dan lembaga-lambaga pendidikan khusus dan sebagainya.[27]

2)  Tujuan khusus
Adapun tujuan khusus pendidikan Islam adalah sebagai berikut:
a.      Memperkenalkan kepada generasi muda akan akidah Islam dasar-dasarnya asal-usul ibadah dan cara melakukannya dengan betul, dengan membiasakan mereka berhati-hati mematuhi akidah-akidah agama dan menjalankan dan menghormati syiar-syiar agama.
b.      Menumbuhkan kesadaran yang betul pada diri pelajar terhadap agama termasuk prinsip-prinsip dan dasar-dasar akhlak yang mulia.
c.      Menanamkan keimanan kepada Allah pencipta alam dan kepada malaikat, rasul-rasulnya. Kitab-kitab dan hari akhir berdasarkan pada faham kesadaran dan perasaan.
d.      Menumbuhkan minat generasi muda untuk menambah pengetahuan dalam adab dan pengetahuan keagamaan untuk mengikuti hukum-hukum agama dengan kencintaan dan keralaan.
e.      Menumbuhkan rasa cinta dan penghargaan kepada Al-Qur’an membacakannya dengan baik, memahaminya dan mengamalkan ajaran-ajarannya.
f.       Menumbuhkan rasa rela, optimisme, percaya diri, tanggung jawab, menghargai kewajiban, tolong menolong atas kebaikan dan taqwa, kasih sayang, cinta kebaikan, sabar, berjuang untuk kebaikan, memegang teguh pada prinsipnya, berkorban untuk agama dan tanah air dan bersiap untuk membelanya.
g.      Mendidik naluri, motivasi dan keinginan generasi muda dan menguatkan dengan akidah dan nilai-nilai, dan membiasakan mereka menahan motivasinya, mengatur emosi dan membimbingnya dengan baik. Begitu juga mempelajari mereka berpegang dengan adab sopan pada hubungan dan pergaulan mereka baik dirumah atau sekolah atau dimana saja sekaligus.
h.      Menanamkan iman yang kuat kepada Allah pada diri mereka perasaan keagamaan, semangat keagamaan dan akhlak pada diri mereka dan menyuburkan hati mereka dengan rasa cinta, dzikir, taqwa dan tajut kepada Allah.
i.        Membersihkan hati mereka dari rasa dengki, hasad, irihati, benci, kekasaran, kezaliman, egoisme, tipuan, khianat, nifak, ragu, perpecahan dan perselisihan[28].

3)  Tujuan akhir
Pendidikan Islam itu berlangsung selama hidup, maka tujuan akhirnya terdapat pada waktu hidup di dunia akhir pula. Tujuan umum yang terbentuk insan kamil dengan pola taqwa dapat mengalami perubahan naik turun, bertambah dan berkurang dalam perjalanan hidup seseorang. Perasaan, lingkungan dan pengalaman dapat mempengaruhinya. Karena itu, pendidikan Islam itu berlaku selama hidup untuk menumbuhkan, memupuk, mengembangkan, memelihara, dan mempertahankan tujuan pendidikan yang telah dicapai. Orang yang sudah taqwa dalam bentuk insan kamil, masih perlu mendapatkan pendidikan dalam rangka pengembangan dan penyempurnaan, sekurang-kurangnya pemeliharaan supaya tidak luntur dan berkurang, meskipun pendidikan oleh diri sendiri dan bukan dalam pendidikan formal.
Mati dalam keadaan berserah diri kepada Allah sebagai orang muslim yang merupakan ujung daru taqwa sebagai akhir dari proses hidup jelas berisi kegiatan pendidikan. Inilah akhir dari proses pendidikan itu yang dapat dianggap sebagai tujuan akhirnya. Insan kamil yang mati dan akan menghadap Tuhannya merupakan tujuan akhir dari proses pendidikan Islam[29].

4)  Tujuan sementara
Tujuan sementara adalah tujuan yang akan dicapai setelah anak didik diberi sejumlah pengalaman tertentu yang direncanakan dalam suatu kurikulum pendidikan formal. Tujuan operasional dalam bentuk instruksional yang dikembangkan menjadi tujuan instruksional umum dan khusus, dapat dianggap tujuan sementara dengan sifat yang agak berbeda. Pada tujuan sementara bentuk insan kamil dengan pola taqwa sudah kelihatan meskipun kurang sederhana, sekurang-kurangnya beberapa ciri pokok merupakan suatu lingkaran yang pada tingkat paling mudah, mungkin merupakan suatu lingkaran kecil. Semakin tinggi tingkat pendidikannya, lingkaran tersebut makin besar. Tetapi sejak dari tujuan pendidikan tingkat permulaan, bentuk lingkarannya sudah harus kelihatan. Bentuk lingkaran inilah menggambarkan insan kamil itu. Disinilah barangkali perbedaan mendasar bentuk pendidikan Islam dibandingkan dengan pendidikan lainnya[30].

5)  Tujuan operasional
Tujuan operasional ialah tujuan praktis yang akan dicapai dengan sejumlah kegiatan pendidikan tertentu. Satu unit kegiatan pendidikan dengan bahan-bahan yang sudah dipersiapkan dan diperkirakan akan mencapai tujuan tertentu disebut tujuan operasional. Dalam tujuan operasional ini lebih banyak dituntut dari anak didik suatu kemampuan dan keterampilan tertentu. Sifat operasional lebih ditonjolkan dari sifat penghayatan dan kepribadian. Untuk tingkat yang paling rendah, tinggi yang berisi keterampilan yang ditonjolkan[31].

c.         Fungsi Pendidikan Agama Islam
Kurikulum pendidikan agama Islam untuk sekolah/madrasah berfungsi sebagai berikut:

1)       Pengembangan, yaitu meningkatkan keimanan dan ketakwaan peserta didik kepada Allah SWT yang telah ditanamkan dalam lingkungan keluarga. Pada dasarnya dan pertama-tama kewajiban kenanamkan keimanan dan ketakwaan dilakukan oleh setiap orang tua dalam keluarga. Sekolah berfungsi untuk menumbuhkan lebih lanjut dalam diri anak melalui bimbingan, pengajaran, dan pelatihan agar keimanan dan ketakwaan tersebut dapat berkembang secara optimal sesuai dengan tingkat perkembangannya.

2)       Menanaman nilai sebagai pedoman hidup untuk mencari kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat.


3)       Penyesuaian mental, yaitu untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya baik lingkungan fisik maupun lingkungan social dan dapat mengubah lingkungannya sesuai dengan ajaran Islam. Penyesuaian mental, yaitu untuk menyesuaikan dari dengan lingkungannya baik lingkungan fisik maupun lingkungan yang sesuai dengan ajaran Islam.

4)       Perbaikan, yaitu untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan, kekurangan-kekurangan dan kelemahan-kelemahan peserta didik dalam keyakinan, pemahaman, dan pengalaman ajaran dalam kehidupan sehari-hari.
5)       Pencegahan, yaitu untuk menangkal hal-hal negative dari budaya lain yang dapat membahayakan dirinya dan menghambat perkembangan menuju manusia Indonesia seutuhnya.

6)       Pengajaran tentang ilmu pengetahuan keagamaan secara umum, sistem dan fungsionalnya.


7)       Penyaluran, yaitu untuk menyalurkan anak-anak yang memiliki bakat khusus bidang agama Islam agar bakat tersebut dapat berkembang secara optimal sehingga dapat dimanfaatkan untuk dirinya sendiri dan bagi orang lain.[32]

d.        Kurikulum Pendidikan Islam
Kurikulum berasal dari  curriculum  dan  terdapat  pula  dalam  bahasa Prancis courir artinya to run artinya berlari, Istilah kurikulum ini digunakan untuk sejumlah mata pelajaran yang harus ditempuh untuk mencapai gelar atau ijazah. Secara tradisional kurikulum diartikan sebagai mata pelajaran di sekolah.

Kurikulum pendidikan agama islam dikenal dengan kata-kata Manhaj yang berarti jalan yang terang yang dilalui oleh pendidik bersama anak didiknya untuk mengembangkan pengetahuan, keterampilan dan sikap mereka. Selain itu kurikulum juga dipandang sebagai program pendidikan yang direncanakan dan dilaksanakan untuk mencapai tujuan pendidikan.

Dari pengertian kurikulum diatas, dapat diperoleh gambaran bahwa pendidikan yang berdasarkan kepada Al-Quran dan As-Sunnah sangat luas jangkauannya. Karena Islam sangat mendorong pemeluknya untuk memperoleh pendidikan tanpa kenal batas.

Ada beberapa pendapat ulama tentang materi yang harus diberikan terhadap anak didik. Menurut Umarbin Khattab, seorangan anak hendaknya diajarkan berenang, berkuda, pepatah yang berlaku dan sajak-sajak yang terbaik. Semua ini diajarkan setelah anak mengetahui prinsip-prinsip agama Islam, menghafal Al-Quran dan mempelajari hadits. Ibnu Sina mengemukakan bahwa pendidikan anak hendaknya dimulai dengan pelajaran Al-Qur an.Kemudian diajarkan syair-syair pendek yang berisi tentang kesopanan setelah anak selesai menghafal Al-Quran dan mengerti tata bahasa Arab disamping diberi petunjuk dan dibimbing agar mereka dapat mengamalkan ilmunya sesuai dengan bakat dan kesediaanya. Abu Thawam berpendapat, setelah anak hafal Al-Qur an hendaknya anak tersebut diajarkan menulis, berhitung, dan berenang[33].

Pendapat para ulama diatas dapat dipahami materi pendidikan agama Islam yang paling utama adalah Al-Qur an, baik keterampilan membaca, menghafal, menganalisa dan sekaligus mengamalkan ajaran-ajarannya dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini dimaksudkan agar ajaran yang terkandung di dalam Al-Qur an tertanam dalam jiwa anak didik sejak dini.

e.         Materi Pendidikan Agama Islam
Salah satu komponen operasional dalam pendidikan Islam sebagai sistem adalah materi, atau disebut juga dengan kurikulum. Jika dikatakan kurikulum, maka ia mengandung pengertian bahwa materi yang diajarkan telah tersusun secara sistematis dengan tujuan yang hendak dicapai. Pada hakikatnya antara yang dimaksud dalam uraian ini, materi dan kurikulum mengandung arti sama yaitu merupakan bahan pelajaran apasaja yang harus disajikan dalam proses kependidikan dalam suatusi steminstitusional pendidikan.
Selain itu materi-materi yang diuraikan Allah dalam kitab suci-Nya Al-Quran menjadi bahan-bahan pokok pelajaran yang disajikan dalam proses pendidikan Islam, baik secara formal maupun non formal. Hal ini dikarenakan materi dalam pendidikan Islam bersumber dari Al-Quran harus dipahami, dihayati, diyakini, dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari umat Islam.

Pada dasarnya materi pendidikan agama Islam terbagi menjadi tiga pokok masalah, yaitu:
1)       Aqidah (keimanan): adalah bersifat itiqad batin, mengajarkan keesaan Allah, Esasebagai Tuhan yang mencipta, mengatur dan meniadakan alam ini.
2)       Syariah (keislaman): adalah berhubungan dengan amal lahir dalam rangka mentaati semua peraturan dan hokum Tuhan, guna mengatur hubungan manusia dengan Tuhan, dan mengatur pergaulan hidup dari kehidupan manusia.
3)       Akhlak (budi pekerti): adalah suatu amalan yang bersifat pelengkap penyempurna bagi kedua amal diatas dan yang mengajarkan tentang cara pergaulan hidup manusia.[34]


Ketiga inti ajaran pokok ini kemudian dijabarkan kedalam bentuk rukun Iman, rukun Islam, dan Akhlak. Sehingga dari ketiganya lahir beberapa keilmuan dalam agama, yakni: Ilmu Tauhid, Ilmu Fiqih, dan Ilmu Akhlak.
Penerapan atau lingkup ketiga materi pokok pendidikan agama ini sebenarnya digambarkan oleh Luqman ketika mendidik putranya sebagimana digambarkan Al-Quran surat Luqman ayat 13, 14, 17, 18 dan 19, sebagai berikut:

øŒÎ)ur tA$s% ß`»yJø)ä9 ¾ÏmÏZö/ew uqèdur ¼çmÝàÏètƒ ¢Óo_ç6»tƒ Ÿw õ8ÎŽô³è@ «!$$Î/ ( žcÎ) x8÷ŽÅe³9$# íOù=Ýàs9 ÒOŠÏàtã
Artinya: Dan (Ingatlah) ketika Luqman Berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar".[35]

$uZøŠ¢¹urur z`»|¡SM}$# Ïm÷ƒyÏ9ºuqÎ/ çm÷Fn=uHxq ¼çmBé& $·Z÷dur 4n?tã 9`÷dur ¼çmè=»|ÁÏùur Îû Èû÷ütB%tæ Èbr& öà6ô©$# Í< y7÷ƒyÏ9ºuqÎ9ur ¥n<Î) 玍ÅÁyJø9$#  

Artinya: Dan kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapanya; ibunya Telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakmu, Hanya kepada-Kulah kembalimu.[36]

¢Óo_ç6»tƒ ÉOÏ%r& no4qn=¢Á9$# öãBù&ur Å$rã÷èyJø9$$Î/ tm÷R$#ur Ç`tã ̍s3ZßJø9$# ÷ŽÉ9ô¹$#ur 4n?tã !$tB y7t/$|¹r& ( ¨bÎ) y7Ï9ºsŒ ô`ÏB ÇP÷tã ÍqãBW{$#  

Artinya: Hai anakku, Dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan Bersabarlah terhadap apa yang menimpakamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah)[37].

Ÿwur öÏiè|Áè? š£s{ Ĩ$¨Z=Ï9 Ÿwur Ä·ôJs? Îû ÇÚöF{$# $·mttB ( ¨bÎ) ©!$# Ÿw =Ïtä ¨@ä. 5A$tFøƒèC 9qãsù

Artinya: Danjanganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan dimuka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri[38].

ôÅÁø%$#ur Îû šÍô±tB ôÙàÒøî$#ur `ÏB y7Ï?öq|¹ 4 ¨bÎ) ts3Rr& ÏNºuqô¹F{$# ßNöq|Ás9 ÎŽÏJptø:$#

Artinya: Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai[39].



f.          Karakteristik Pendidikan Agama Islam
Karakteristik pendidikandalam arti luas adalah: (1) pendidikan berlangsung sepanjang hayat, (2) lingkungan pendidikan adalah semua yang ada pada diri peserta didik, (3) bentuk kegiatan mulai dari yang tidak disengaja sampai pada yang terprogram, (4) tujuan pendidikan berkaitan dengan setiap pengalaman belajar, dan (5) tidak dibatasi oleh ruang dan waktu.[40]
Sedangkan Karakteristik pendidikan Islam:
1)       Penekanan pada pencarian ilmu pengetahuan, penguasaandan pengembangan atas dasar ibadah kepada Allah swt.
2)       Penekanan pada nilai-nilai akhlak.
3)       Pengakuan akan potensi dan kemampuan seseorang untuk berkembang dalam suatu kepribadian.
4)       Pengamalan ilmu pengetahuan atas dasr tanggung jawab kepada Tuhan dan masyarakat manusia[41].

C.           Pengaruh tipologi Belajar terhadap Prestasi Belajar Siswa
Tipologi belajar kita pada umumnya ditentukan lewat cara kita menyerap dan mengatur informasi-informasi dari yang konkret (yang berakar pada pancaindra ragawi, menekan pada apa yang dapat diamati) hingga yang abstrak (yang berakar dalam emosi dan intuisi, menekankan perasaan dan ide-ide), kendati kebanyakan orang lebih suka cara khusus. Ini adalah refleksi pendekatan Piaget dari yang konkret ke yang abstrak dan dari yang sudah diketahui ke yang belum diketahui.
“Seperti pendapat ahli yang juga mengatakan bahwa kemampuan kita untuk mengatur informasi-informasi adalah kemampuan mengurutkan (menyimpan informasi secara linier, logis dan tahap demi tahap) dan acak (menyimpan secara tidak linier, holistic dan keleidoskop), meskipunlagi-lagikebanyakan orang mempunyai kesukaanya sendiri”[42].

Pada awal tadi telah dijelaskan bahwa tipologi belajar merupakan kunci untuk mengembangkan kinerja dalam pekerjaan, disekolah, dan dalam situasi-situasi antar pribadi. Dengan begitu tipologi belajarakan mempengaruhi seseorang dalam menyerap dan mengolah informasi.

Menurut Grinder, pengarang Righting The Education Comveyor Belt, telah mengajarkan tipologi belajar dan mengajar kepada banyak instruktur. Ia mencatat bahwa dalam setiap kelompok yang terdiri dari tiga puluh murid, sekitar dua puluh orang yang mampu belajar secara cukup efektif dengan cara visual, auditorial, dan kinestetik sehingga mereka tidak membutuhkan perhatian khusus. Dari sisa delapan orang, sekitar enam orang memilih satu modalitas belajar dengan sangat menonjol melebihi dua modalitas lainnya. Sehingga setiap saat mereka harus selalu berusaha keras untuk memahami perintah, kecuali jika perhatian khusus diberikan kepada mereka dengan menghadirkan cara yang mereka pilih. Bagi orang-orang ini, mengetahui cara belajar terbaik mereka bisa berarti perbedaan antara keberhasilan dan kegagalan. Dua orang siswa mempunyai kesulitan belajar karena sebab-sebab eksternal.[43]
Dengan mengetahui tipologi belajar yang berbeda ini telah banyak membatu para guru dimanapun untuk dapat  mendekati semua atau hampir semua siswa lainnya dengan menyampaikan informasi dengan tipologi yang berbeda-beda. Begitu juga dengan setiap siswajika seseorang siswa dapat mengetahui tipologi belajarnya maka akan sangat dapat membantunya dalam belajar dengan optimal kemudian secara berkelanjutan dapat mempengaruhi siswa tersebut dalam mencapai prestasi belajar yanglebih baik dibandingkan dengan siswa yang tidak mengetahui tipologi belajarnya sendiri.








[1] Joko Susilo, op. cit., 15
[2] Bobbi Deporter dan Hernacki, op. cit, 110
[3] Ibid,,
[4] Gordon Drygen dan Jeannete Vos, Revolusi Cara Belajar, The Learning Revoulution (Bandung, PT Mizan, 2001). 351
[5] Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek (Jakarta: Rineka Cipta, 2002 ), 117
[6] Ibid..
[7] Ibid..
[8] Pupuh Fathurrohman, Sobry Sutikno, Strategi Belajar  Mengajar Melalui Penanaman Konsep Umum dan Konsep Islami (Bandung: PT Refika Aditama, 2007), 6
[9] Muhaimin, Abdul Mujib, Pemikiran Pendidikan Islam ( Bandung: Trigenda Karya, 1993), 93
[10] Nana Sudjana, Dasar-Dasar  Proses  Belajar  Mengajar (Bandung: Sinar Baru Algensindo, 2004), 28
[11] Syaiful Bahri, Aswan Zaim, Strategi Belajar  Mengajar (Jakarta: Rineka Cipta, 2002), 44
[12] Winkel, Psikologi Pengajaran (Jakarta: Gramedia Pustaka Tama, 2005). 59
[13] Nana Syaodih Sukmadinata, Landasan Psikologi Proses Pendidikan (Bandung:PT Remaja Rosdakarya, 2005), 168
[14] Reni Akbar, Hawadi, Aksererasi (Jakarta, PT Grasindo, 2004), 68
[15] Nana Sudjana, op. cit., 41
[16] Muhiddin Syah, Psikologi Belajar (Jakarta, PT Raja Grafindo Persada, 2003), 144
[17] Ridwan202. ketercapaian-prestasi-belajar  (www. wordpress.com, diakses 10/06/2011)
[18] Winkel, op. cit., 59
[19] Syaiful Bahri Djamarah, Psikologi Belajar, (Jakarta: Rineka Cipta, 2008), 148
[20] Ibid,.149
[21] Ibid,, 151
[22] M Dimyati Mahmud, Psikologi Pendidikan (Yogjakarta: BPEF, 1989). 85
[23] Moh Amir,Pengantar Ilmu Pendidikan Islam (Pasuruan: Garroeda Buana Indah, 1992), 4
[24] Abdul Madjid, Pendidikan Agama Islam Berbasis Kompetensi (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2004), 130
[25] Ramayulis, Metodologi Pendidikan Agama Islam, (Jakarta, Kalam Mulia, 2005), 21
[26] Armai Arief, Pengantar Ilmu dan Metodelogi Pendidikan Islam (Jakarta: Ciputat Pers, 2002), 15-16
[27] Ibid.,  29
[28] Ibid,.  26-27
[29] Proyek Pembinaan Perguruan Tinggi Agama/IAIN, Ilmu Pendidikan Islam (Jakarta: Direktorat Jenderal Kelembagaan Agama Islam, 1982), 27
[30] Ibid,. 31
[31] Ibid., 32
[32] Abdul Madjid,  op. cit, 134-135
[33] Armai Arief, op. cit, 30-31
[34] Zuharini, Methodik Khusus Pendidikan Agama (Malang, IAIN Sunan Ampel Malang, 1983), 58.
[35] Mahmud Yunus, Terjemah Qur’an Karim,  (Bandung: Alma’arif, 1991), 371
[36] Ibid., 371-372
[37] Ibid,.
[38] Ibid.,
[39] Ibid,.
[40] Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam  (Jakarta, Kalam Mulia, 2006), 18
[41] Mawardi RZ, Ilmu Pendidikan Islam (http : www. wordpress.com, diakses 12 Juni 2011 )
[42] Derek Glover and Sue Law, Improving Learning Professional Practice in Secondary Schools (Jakarta: PT Grasindo, 2002). 90
[43] Bobbi Deporter dan Hernacki, terj., Alwiyah AbdulRahman,  op.cit., 112.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar